Tuesday , 1 December 2020
Home / Properti / WNA Berpotensi Miliki Rumah Susun, Pengamat : Tiga Faktor Ini Kendalanya – Property & Bank

WNA Berpotensi Miliki Rumah Susun, Pengamat : Tiga Faktor Ini Kendalanya – Property & Bank

PROPERTI – Undang-Undang Cipta Kerja menyebutkan warga negara asing bisa mendapatkan status hak milik atas satuan rumah susun (sarusun) yang mereka miliki. Menteri Agraria dan Tata Ruang Sofyan Djalil menyebut hal ini mendorong perkembangan industri properti.
Dengan perkembangan industri properti tersebut, dia menyebut akan berdampak ganda pada pertumbuhan berbagai industri lainnya. “Tentu 179 industri lain terbawa, jika industri properti berkembang,” ujar Sofyan akhir pekan lalu.

Meski WNA diperbolehkan memiliki rumah susun di Indonesia, Sofyan memastikan, status kepemilikan hanya berupa hak pakai bukan hak atas tanah. Karena itu dia menyebut WNA bisa membeli apartemen tanpa tanah.
“Kita harus dorong industri properti ini, jangan takut kepada orang asing. Yang diberi itu hanya hak ruang. Jika WNA mau beli rumah susun ya silahkan, itu hak pakai. Hak pakai diakui UU pokok agraria. Tapi, untuk hak tanah dan hak guna bangunan (HGB), WNA tidak boleh,” jelasnya.

Lebih lanjut ia menyebutkan, nanti ada aturan yang mengatur kepemilikan rumah susun untuk orang asing. Menurutnya, harga akan menjadi pedoman. Dia memastikan orang asing tidak akan bisa bersaing dengan rumah rakyat.
“Kalau rumah yang disediakan untuk rumah rakyat, tidak boleh dibeli oleh orang asing. Orang asing cuma bisa beli rumah dengan harga misalnya Rp 5 miliar ke atas,” terang Sofyan.
Sementara, Senior Associate Director Research Colliers International Indonesia Ferry Salanto menuturkan, ada tiga faktor yang menjadi kendala WNA untuk memiliki properti di Indonesia, yaitu status tanah, batasan harga, dan keimigrasian.

Pemerintah harus menyinkronkannya dengan UU Pokok Agraria (UUPA) tentang status tanah apartemen, ketetapan batasan harga, dan masalah keimigrasian.
“Jika semua sinkron, akan menarik WNA untuk membeli apartemen di Indonesia,” kata Ferry. Ia menilai, hak kepemilikan properti oleh asing masih sulit mendongkrak sektor properti Indonesia, karena banyaknya batasan.
Selama ini WNA yang ingin membeli apartemen di Indonesia harus berdomisili di Indonesia. Hanya WNA yang telah memiliki Kartu Izin Tinggal Terbatas (Kitas) dan Kartu Izin Tinggal Tetap (Kitap), yang diperbolehkan membeli apartemen.

Hal ini berbeda dengan di Singapura, WNA bisa membeli apartemen meskipun mereka tak tinggal dan menetap berdomisili di negara itu.
“Jangan sampai muncul negative feedback, karena seharusnya UU Cipta Kerja menjadi katalis buat investasi asing. Jadi, harus melihat apakah Omnibus Law ini mengubah UU Pertanahan, tidak hanya hak pakai, tapi juga HGB,” tutur Ferry.
Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Piter Abdullah menilai aturan itu sah saja diterapkan. Asalkan diatur secara rinci dan jelas bagaimana kepemilikan, hak-hak dan kewajibannya untuk memiliki properti di Indonesia.

“Sebetulnya warga negara asing tidak boleh punya properti di Indonesia. Ini perlu penjelasan dari pemerintah walaupun saya melihatnya ini tidak melanggar karena ini dikaitkan dengan investasi. Sekaligus saja ini dilonggarkan warga negara asing boleh memiliki properti di Indonesia karena itu akan meningkatkan industri sektor properti yang sekarang ini sedang lesu karena kita dari sedikit negara yang tidak mengizinkan warga negara asing memiliki properti. Saya kira tidak ada ruginya kita mengizinkan” tutur Piter saat dihubungi. (Artha Tidar)

Berita Properti | Sumber : WNA Berpotensi Miliki Rumah Susun, Pengamat : Tiga Faktor Ini Kendalanya – Property & Bank

Check Also

Pemerintah Kembangkan Stimulus Pembiayaan Perumahan Untuk Non MBR - Property & Bank

Ekonomi Masih Lemah, Pelaku Properti Soroti Turunnya Suku Bunga – Property & Bank

PROPERTI – Penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia 7 days (reserve) repo rate (BI-7DRR), menjadi …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *