Sunday , 25 October 2020
Home / Bisnis / “Tarik Ikan”, ikhtiar membantu pembudi daya di kala pandemi

“Tarik Ikan”, ikhtiar membantu pembudi daya di kala pandemi

Kalau tidak ada Kabayan, budi daya ikan mas saya tutup saat pandemi ini karena kehabisan modalJakarta (ANTARA) – Pandemi COVID-19 yang masih berlangsung hingga saat ini, membuat hampir semua sektor kehidupan terdampak, tidak terkecuali tentang budi daya ikan air tawar.

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memotret salah satu kondisi itu dialami oleh pembudi daya ikan di Kabupaten Minahasa Utara, Sulawesi Utara.

Para pembudi daya ikan tersebut sangat merasakan dampaknya, mulai dari menurunnya permintaan ikan yang berimbas terhadap turunnya harga ikan.

Kondisi riil itu tentu sangat memengaruhi pendapatan pembudi daya, yang disebutkan bak buah simalakama –menghadapi keadaan yang serba salah–, yakni kian ditahan masa pemeliharaan semakin besar anggaran yang dikeluarkan dengan harga ikan yang semakin menurun.

Sayangnya, penurunan itu tidak terjadi pada harga pakan ikan sehingga makin membuat pembudi daya semakin pusing.

Dalam satu kesempatan, Menteri KKP Edhy Prabowo mengakui kondisi yang dialami pembudi daya itu sehingga ia menegaskan negara bakal terus hadir untuk menjaga situasi sekarang yang dinilai akan memicu dampak negatif pada produktivitas subsektor perikanan budi daya.

Menurut dia, penjagaan harus dilakukan karena subsektor perikanan budi daya kinerjanya saat ini sedang mencapai kondisi yang bagus.

Karena itu, rencana yang disiapkan untuk menyelamatkan industri perikanan budi daya, salah satunya dengan membeli hasil produksi perikanan budi daya. Namun, masih ada skenario lain yang sedang disiapkan oleh negara agar masyarakat tidak kendor dalam kegiatan budi daya.

Dirjen Perikanan Budi Daya KKP Slamet Soebjakto pun tak menampik pandemi global COVID-19 memang menjadi kekhawatiran banyak pelaku usaha perikanan budi daya.

Namun, ia memberi penegasan juga bahwa dalam kondisi tersebut pemerintah akan terus hadir untuk mendampingi para pembudi daya ikan untuk bisa melaksanakan produksi dengan baik.

Serap hasil panen

Tidak hanya pemerintah yang punya komitmen untuk menyelamatkan kelompok pembudi daya ikan di Tanah Air.

Melalui Program “Tarik Ikan 30.000 Kilogram”, usaha rintisan akuakultur pertama di Indonesia, yakni “eFishery” yang berpusat di Bandung, melakukan ikhtiar guna membantu para pembudi daya ikan air tawar di Tanah Air

“Kami berkomitmen untuk turut berkontribusi dalam mengatasi masalah yang dialami oleh pembudi daya Indonesia selama masa pandemi,” kata Kepala Pemasaran “eFishery” Galih Husni Fauzan.

Ia menjelaskan sektor perikanan budi daya adalah salah satu yang merasakan dampaknya, bahkan sejak pandemi ini muncul di awal 2020.

Melihat kondisi sektor perikanan budi daya yang mengalami penurunan, “eFishery” berkomitmen untuk turut berkontribusi dalam mengatasi masalah yang dialami oleh pembudi daya Indonesia selama masa pandemi.

Masalah-masalah yang dialami oleh pembudi daya selama masa pandemi, di antaranya penurunan permintaan ikan yang cukup signifikan sehingga ikan hasil panen tidak terserap dengan baik.

Untuk meminimalisasi kerugian, pembudi daya terpaksa tidak memanen seluruh ikan meskipun ukuran dan kondisinya sudah sesuai dengan permintaan pasar.

“Di tengah pandemi seperti sekarang ini, pengambilan ikan berkurang hingga 50 persen setiap pekannya, kalau ada yang mau beli juga harganya jatuh, belum menutup untuk modal, jadi terpaksa ikan tidak diangkat,” kata Baban, pembudi daya ikan nila asal Pamijahan, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

 

Berita Bisnis | Sumber : “Tarik Ikan”, ikhtiar membantu pembudi daya di kala pandemi

Check Also

Luhut sebut 70 persen obat kini bisa diproduksi di dalam negeri

Luhut sebut 70 persen obat kini bisa diproduksi di dalam negeri

Jadi selama COVID-19 itu, saya baru tahu kita itu hampir 90 persen obat kita imporJakarta …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *