Tuesday , 20 April 2021
Home / Bisnis / Optimisme Presiden untuk “Re-Open Border” Bali

Optimisme Presiden untuk “Re-Open Border” Bali

Kita berharap Bali segera bisa bangkit apabila proses vaksinasi berjalan terus setiap hari. Bila sudah terlihat penyebaran COVID-19 melandai, dengan tahapan-tahapan yang nanti akan didesain pemerintah daerah,….Denpasar (ANTARA) –
Optimisme Presiden Joko Widodo saat datang ke “pulau pariwisata” Bali pada 16 Maret 2021 agaknya membawa “angin segar” bagi masyarakat Pulau Dewata, apalagi Presiden menyebut “Re-Open Border” Bali melalui serangkaian tahapan yang cukup terpola dan berkesinambungan.

“Re-Open Border” itu akan dimulai dengan tahapan “uji coba” melalui percontohan tiga destinasi “zona hijau” pada Juli 2021 hingga pariwisata Bali dinyatakan “siap” pada 17 Agustus 2021 dan akhirnya Bali akan benar-benar “open” untuk dunia pada Maret 2022.

“Pernyataan Bapak Presiden itu memberikan angin segar bagi pelaku pariwisata di Bali, termasuk para pelaku Penyelenggara Kegiatan (Event) untuk terus berbenah diri dan merapatkan barisan,” kata Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Industri Event Indonesia (IVENDO) Bali, Grace Jeanie, kepada pers di Denpasar (19/3/2021).

Kendati Kepala Negara menyebut sebuah syarat untuk itu, yakni angka pertumbuhan COVID-19 semakin terkendali, namun pernyataan Presiden itu cukup melegakan, karena pemerintah tidak tinggal diam, melainkan sudah melakukan langkah-langkah taktis, seperti perluasan program vaksinasi, pengetatan penerapan prokes, bantuan stimulus industri yang besar, dan lain-lain.

Untuk itu, IVENDO Bali menyampaikan sumbangan pemikiran bahwa persiapan “Re-open border” bisa diawali  dengan melakukan simulasi dengan mengundang media asing dan perwakilan negara asing ke Bali, sekaligus melakukan publikasi serta promosi secara gencar untuk menunjukkan kesiapan Bali.

Bahkan, untuk penerapan protokol kesehatan (prokes) juga bukan hanya etalase dengan sosialisasi semata, tapi pelatihan secara masif dan terus-menerus, khususnya di industri pariwisata. “IVENDO siap dilibatkan untuk pelatihan CHSE dengan trainer setingkat ASEAN. Juga, program integrasi konsep sistem pemasaran ekraf,” katanya.

Istri Gubernur Bali itu menambahkan, menggeliatnya ekonomi yang besar dimulai dari menggeliatnya ekonomi yang kecil, dan ketika masa pandemi ini agaknya UKM dan IKM layaknya “cahaya lilin” yang berada di tengah kegelapan. Pameran “Karya Kreatif Indonesia” yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia secara serentak pada 3-5 Maret 2021 merupakan momentum untuk mengingatkan, terutama pada anak bangsa bahwa wajib untuk melestarikan dan mengembangkan warisan leluhur berupa karya seni, seni rupa, serta seni kerajinan yang terangkum ke dalam budaya adat.

“Bali itu harus kuat layaknya segitiga sama sisi (sektor pariwisata, sektor pertanian dan sektor industri kerajinan/ UMKM/artisan), semua harus saling menopang. Apabila ada satu yang melemah, maka dua lainnya harus kuat, sehingga Bali akan tetap bangkit dan berdiri tegak,” ucapnya dalam acara yang dihadiri Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Rizki Ernadi Wimanda.

Dengan mengangkat tema “Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia dan Gerakan Berwisata Indonesia” diharapkan mampu mengingatkan semuanya bahwa Bali adalah bagian dari Indonesia, sudah sepatutnya  bangga menggunakan produk seni dan karya perajin lokal.

“Indonesia merupakan negara yang paling banyak mempunyai karya seni, sehingga kita sebagai generasi penerus wajib dan bertugas untuk mengembangkannya, tetapi jangan sampai punah akibat salah pola atau salah sistem,” ujar Putri Koster di sela-sela pameran Karya Kreatif Indonesia seri 1 Tahun 2021 yang diikuti 17 peserta UMKM (8 UMKM produk kain tenun, 5 UMKM produk kriya dan 4 UMKM produk makanan) itu.

Apalagi, UMKM dalam bidang artisan (kerajinan tangan) agaknya cukup potensial untuk Bali, bahkan sejumlah artisan dari pulau “sepotong surga di Bumi” itu telah dilirik dan “dicuri” warga asing untuk dipasarkan di luar negeri dengan merek asing, sehingga masyarakat Bali hanya berkarya tapi keuntungan diambil pihak asing, seperti kerajinan sepatu, tas, dan artisan lainnya yang diproduksi di Bali, tapi “dijual” di luar negeri dengan “kepemilikan” oleh warga asing.

Sektor lain yang juga penting untuk Pulau Dewata adalah pertanian. “Bali sangat terpuruk karena ketergantungan pada sektor pariwisata, sementara daerah lain lebih tahan,” kata Wagub Bali saat membuka kegiatan Apresiasi dan Evaluasi Kinerja Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) 2019 dan Rakorwil TPID Bali Nusra 2020 di Ubud, Gianyar (12/11/2020).

Menurut Wagub Bali yang juga Guru Besar ISI Denpasar itu, kondisi pandemi perlu dijadikan bahan evaluasi untuk menggenjot sektor alternatif selain pariwisata. Salah satu sektor alternatif yang harus digarap lebih serius adalah pertanian dengan pemanfaatan teknologi.

Ya, 54 persen Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Bali saat ini bersumber dari sektor pariwisata, sehingga Bali kehilangan devisa hingga Rp9,7 triliun setiap bulan, atau mengalami kontraksi yang lebih dalam dibandingkan kontraksi pertumbuhan ekonomi secara nasional, karena Pulau Dewata sudah saatnya mengembangkan tiga sektor secara seimbang yakni pariwisata, pertanian, dan UMKM/artisan.

 

Berita Bisnis | Sumber : Optimisme Presiden untuk “Re-Open Border” Bali

Check Also

Kementerian PUPR kebut pembangunan Rusun ASN di Yogyakarta

Kementerian PUPR kebut pembangunan Rusun ASN di Yogyakarta

Jakarta (ANTARA) – Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mengebut rencana pembangunan rumah susun …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *