Wednesday , 28 October 2020
Home / Ekonomi / Industri kakao Indonesia: Saatnya kualitas menjadi prioritas

Industri kakao Indonesia: Saatnya kualitas menjadi prioritas

Jakarta (ANTARA) – Indonesia adalah salah satu penghasil kakao terbesar di dunia. Terletak di wilayah iklim tropis, kondisi ini menjadikan Indonesia tempat tumbuh ideal untuk pohon kakao.

Menurut data Badan Pangan dan Pertanian PBB atau Food and Agriculture Organization (FAO), Indonesia adalah produsen kakao terbesar ketiga di dunia setelah Pantai Gading dan Ghana (2017). Sedangkan menurut International Cocoa Organization (ICCO), Indonesia adalah produsen kakao terbesar kelima di dunia setelah Pantai Gading, Ghana, Ekuador dan Nigeria (2018).

Walaupun jumlah produksi kakao di Indonesia saat ini “terlihat besar”, banyak faktor yang menyebabkan mengapa jumlah produksi kakao di Indonesia ke depannya cukup mengkhawatirkan.

Cokelat adalah produk konfeksioneri yang paling popular di Indonesia dan bahkan dunia. Cokelat sangat disukai oleh konsumen milenial karena rasa, aroma, tekstur, sensasi leleh dan alir serta karakter unik lain yang dirasakan konsumen ketika cokelat dikonsumsi. Pada segmen yang berbeda, cokelat (terutama dark chocolate) sangat dicari oleh konsumennya karena efek kesehatan yang ditawarkannya. Polifenol adalah senyawa aktif pada biji kakao yang bertanggung jawab sebagai antioksidan, menjadikannya sangat digemari konsumen yang memiliki perhatian lebih terhadap kesehatan.

Sebuah ironi, walaupun bahan baku kakao sangat melimpah di Indonesia, akan tetapi konsumsi cokelat di Indonesia cukuplah rendah. Dibandingkan dengan penduduk Swiss, Jerman dan Norwegia yang mengkonsumsi cokelat pada kisaran 10 kg/tahun/orang atau penduduk Austria, Inggris, Swedia, Denmark, Finlandia dan Belgia yang mengkonsumsi cokelat sekitar 6-8 kg/perkapita/tahun, tingkat konsumsi cokelat penduduk Indonesia hanyalah sekitar 0,5 kg/tahun/orang. Oleh karena itu, edukasi tentang perlunya mengkonsumsi cokelat (misalnya issue terkait efek kesehatan, pemberdayaan petani, ketahanan dll) perlu dilakukan secara masif kepada masyarakat sehingga konsumsi cokelat dapat meningkat.

Hal ini tentu saja tidak mudah, tapi sudah banyakkah yang mencoba?

Pengelolaan lahan pohon kakao yang dilakukan oleh rakyat (lebih dari 90 persen), menyebabkan keseriusan pengelolaan kebun kakao menjadi taruhannya.

Bukan rahasia lagi jika permasalahan di hulu terkait tenaga kerja, hama, ketersediaan pupuk, usia tanaman (yang berimbas pada produktifitas), harga jual biji kakao (fermentasi dan non fermentasi), dan kualitas biji kakao yang dihasilkan petani memberikan mimpi buruk untuk keberlangsungan industri perkebunan kakao di Indonesia.

Permasalahan ini sangat terkait erat satu sama lain, sehingga penguraian masalah juga harus dilakukan serentak dari sisi teknis, sosial dan ekonomi yang mana ini tidaklah mudah. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika selama satu dekade terakhir ini, permasalahan ini selalu rutin terdengar.

Cocoa and Chocolate Processing.

Berita Ekonomi | Sumber : Industri kakao Indonesia: Saatnya kualitas menjadi prioritas

Check Also

Pegadaian dorong pelaku UMKM melek digital

Pegadaian dorong pelaku UMKM melek digital

ANTARA – BUMN berupaya membantu pemerintah memberikan dorongan untuk sektor UMKM di masa pandemi COVID-19, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *