Sunday , 20 September 2020
Home / Keuangan & Perbankan / DAMPAK COVID 19 “BALI SMALL IS BEAUTIFUL” DALAM DEPRESIASI BERAT DAN RESESI EKONOMI – Property & Bank

DAMPAK COVID 19 “BALI SMALL IS BEAUTIFUL” DALAM DEPRESIASI BERAT DAN RESESI EKONOMI – Property & Bank

Opini : Pariwisata Bali yang sudah sangat terkenal di penjuru dunia, apalagi dengan predikatnya Bali Small Is Beautiful, menjadi nilai tambah daya tarik Bali yang luar biasa.
Tidak semata mata keindahan alamnya, Bali juga di dukung Budaya Hindu Bali (BHB) nya sebagai taksunya yang unik. Ditambah masyarakat yang ramah tamah dan toleran memperkuat taksu menjadi magnit telah banyak menarik minat para wisatawan mancanegara berdatangan dan berkunjung ke Bali sebagai tujuan wisata favourit dunia yang tiada duanya.

Patut kita hormati dan apresiasi apa yang disampaikan Menteri Ketua Bappenas Kabinet Indonesia Maju Suharso Monoarfa yang mengaku bagian dari warga Bali dan Bali sebagai rumah kedua yang mengatakan  Bali telah mampu menyumbang devisa dari hasil pariwisata mencapai US$.18 juta berharap Bali segera bangun segera bangkit.
Bahkan menurut Ketua PHRI Bali DR. Cok Ace yang juga Wakil Gubernur Bali mencatat jumlah hotel berbintang lima  hingga non bintang mencapai 130.000 hotel dengan total kamar kurang lebih mencapai 47 juta kamar.

Sejak virus corona mulai terdeteksi pertama kali di Wuhan, China pada awal Desember 2019 serta menyebar ke seluruh penjuru dunia, telah mengancam tidak saja dari segi kesehatan umat manusia, tapi juga hampir semua sektor industri dan bisnis yang berdampak pada terpuruknya perekonomian di semua negara di dunia. Sehingga menghambat aktivitas social, wisata maupun bisnis.
Imbasnya masyarakat diisolasi dan menutup diri, membuat penerbangan jadi sepi bahkan terhenti dan tidak sedikit air port tidak beroprasi. Apalagi sejumlah negara memberlakukan travel band dan melakukan locked down untuk memperlambat penyebaran covid 19.

Dengan kondisi demikian sudah pasti industri pariwisata dengan usaha ikutannya terpuruk hebat terkena dampak penyebaran wabah Covid 19. Di Indonesia sendiri, kasus covid-19 terdeteksi sejak Februari 2020, yang pada akhirnya menyebar ke Indonesia.
Kontan, industri pariwisata Indonesia terkena imbasnya, termasuk Bali yang menjadi pintu gerbang utama pariwisata Indonesia tidak luput dari serangan covid 19.

Dengan menyebarnya wabah penyakit covid 19 di Bali, banyak hotel yang jumlahnya ratusan tidak ada kedatangan wisatawan menginap di hotel hotel.
Dari data yang diperoleh dari Kantor Imigrasi Bali, bulan Februari 2020 jumlah wisatawan yang datang ke Bali mencapai jumlah 392.824 orang. Jumlah ini turun sebesar 33% sejak bulan Januari 2020 dampak dari covid 19 yang membuat jumlah wisatawan China berkurang drastis yang berkunjung ke Bali.
Padahal pada tahun 2019, ada sekitar 2 juta wisatawan China datang berwisata ke Bali. Dengan adanya penyebaran wabah penyakit covid 19 ditahun 2020 sepertinya akan sangat sulit bagi Bali untuk mencapai target diatas 2 juta wisatawan China.

Disamping terkena depresiasi berat akibat hotel-hotel tidak ada penghuninya, membuat perekonomian juga terpuruk hebat. Data BPS Bali mencatat telah tumbuh kontraksi minus 6,19% pada Januari s/d Juni 2020 jika dibandingkan semester I 2019 sedangkan pada triwulan II/2020 atau priode April – Juni 2020 turun hingga 10,98% jika dibandingkan periode sama tahun lalu.
Tingkat pertumbuhan di daerah pariwisata ini minus dua triulan berturut turut mengindikasi Bali sudah terparpar resesi ekonomi disamping depresiasi besar dibidang pariwisata  masih beruntung Bali tidak menghadapi krisis dibidang pangan yang sangat besar ketergantungannya terhadap pasokan dari luar.

Namun ketergantungan pada pasokan pangan dari luar yang tentu tidak produktif terhadap bidang pertanian. Hal ini mulai disadari oleh Gubernur Bali DR. I Wayan Koster. Dengan berusaha menyeimbangkan dan menselaraskan dengan sektor pariwisata sebagai sektor tersier.
Hal ini hendaknya perlu diikuti dengan mengapresiasi dan merevitalisasi lembaga Subak dengan peran usaha bisnis yang lebih modern dan professional. Dengan memperluas pola pengelolaan dan penerapan pola  bisnis  Supply Chain Mangement (SCM) tanpa mengabaikan perannya sebagai lembaga tradisional yang juga merupakan tulang punggung Budaya Hindu Bali.

Dengan kondisi demikian keberadaan perekonomian Bali, bisa dikatakan tidak mampu menghindarkan pertumbuhan kontraksi akibat dampak dari covid 19. Dimana terlihat pertumbuhan konsumi yang juga justru negative. Bahkan kemungkinan tidak mengupayakan serapan APBD dan stimulus fiscal maupun bantuan social tunai secara maksimal. Padahal dalam situasi Covid 19 ini, hal tersebut sangat potensial untuk melakukan pembangunan infrastruktur atau perbaikan maupun penataan kota dan pusat tourisme  yang selalu krodit dan macet di saat saat normal.
Disisi lain Gubernur Bali DR. I Wayan Koster dan Wakil Gubernur DR. Cok Ace juga sudah berani mengambil kebijakan yang berani dengan mengambil langkah pararel dengan membuka pariwisata untuk Wisatawan Nusantara sejak tanggal 31 Juli 2020 sebagai upaya menghidupkan kembali pergerakan perekonomian agar semakin membaik. tentu mutlak harus mengikuti ketaatan dan kepatuhan terhadap protocol kesehatan sesuai dengan Pergub yang telah diterbitkan.

Sayangnya pembukaan kepariwisataan Bali secara bertahap yang dilakukan berikutnya untuk wisatawan mancanegera yang rencana dibuka tanggal 11 September 2020 sudah pasti ditunda, hingga awal tahun 2021 mengingat Indonesia masih masuk zona merah covid 19.
Sebaiknya pemerintah Provinsi Bali mengkajinya kembali dengan mengintensifkan dalam mensosialisasi kan protocol kesehatan berharap pembukaan pariwisata untuk wisatawan mancanegara bisa dipercepat paling lambat awal bulan November 2020.

Dengan pembukaan pariwisata untuk wisatawan mancanegara, diharapkan ke bangkitan perekonomian Bali bisa lebih cepat. Berharap recoveri pariwisata dan ekonomi Bali segera bisa membaik dan sebagai fundamental.
Agar kedepan  ekonomi bisa tumbuh 7% sebagaimana yang pernah diraih dan selalu diatas rata  rata pertumbuhan nasional bisa terwujud. Apalagi sebagai pintu gerbang utama  pariwisata Indonesia  dan menjaga maupun mengapresiasi Bali Small Is Beautiful sebagai tujuan wisata terfavourit dunia sehingga mampu memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pembangunan nasional Negara Kesatuan Republik Indonesia.
 
Penulis  :  Ida Bagus Kade Perdana
Mantan Dirut Bank Sinar Jreeeng
Ketua BANI Bali Nusra
Wakil Ketua Umum Kadinda Provinsi Bali

Berita Keuangan & Perbankan | Sumber : DAMPAK COVID 19 “BALI SMALL IS BEAUTIFUL” DALAM DEPRESIASI BERAT DAN RESESI EKONOMI – Property & Bank

Check Also

Marak Kasus Kepailitan, Pakar Hukum : Awas ! Ada Oknum Yang Manfaatkan Situasi - Property & Bank

Marak Kasus Kepailitan, Pakar Hukum : Awas ! Ada Oknum Yang Manfaatkan Situasi – Property & Bank

HUKUM PROPERTI – Kasus kepailitan ramai dan viral dibicarakan di industri properti beberapa waktu lalu. …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *