Friday , 18 September 2020
Home / Ekonomi / COVID-19 dalam “protokol” Bu Tedjo, simalakama ekonomi dan kesehatan

COVID-19 dalam “protokol” Bu Tedjo, simalakama ekonomi dan kesehatan

Bisa saja kebijakan 59 negara tersebut berdampak pada sektor ekonomi, terutama bantuan dari luar negeri dan berpengaruh terhadap bursa saham dan nilai tukar rupiahDenpasar (ANTARA) – Diakui atau tidak, dampak COVID-19 paling parah dari sisi ekonomi adalah kawasan pariwisata, karena kawasan pariwisata seperti Pulau Bali berharap orang datang, sedangkan COVID-19 justru melarang orang untuk datang dengan alasan kesehatan. Buktinya, ekonomi Bali mengalami kontraksi 10,98 persen, padahal Jakarta hanya minus 8 persen.

Sebaliknya dampak COVID-19 paling parah dari sisi kesehatan adalah kawasan perkotaan. Buktinya, data Satgas COVID-19 per 29 Agustus 2020 mencatat sembilan kawasan paling parah, adalah Kota Semarang 2.317, Jakarta Pusat 1.916, Kota Medan 1.432, Kota Surabaya 1.355, Jakarta Selatan 1.338, Jakarta Timur 1.327, Jakarta Utara 1.276, Makassar 1209, Jakarta Barat 1.135 kasus.

Artinya kesehatan atau ekonomi itu bukan harus dipilih salah satu, karena COVID-19 itu bukan soal matematis, meski kadang ada yang meningkahi dengan sangat politis. Dibilang bukan matematis, karena COVID-19 memang ibarat buah simalakama antara kesehatan dan ekonomi.

Ya kesehatan dan ekonomi itu sama-sama penting yang tidak bisa dipilih salah satu. Ibarat buah simalakama, kalau memilih kesehatan berarti akan banyak yang mati kelaparan, tapi kalau memilih ekonomi berarti akan banyak yang mati sakit (terpapar COVID-19)

Jadi, COVID-19 itu bukan hal sederhana yang bisa diselesaikan seperti perkalian atau pertambahan yakni 2×2=4 atau 2+2=4. Persoalannya tidak berbeda dengan orang naik kendaraan yang harus memainkan gas dan rem sedemikian rupa agar imbang. Kalau gas saja bisa kecelakaan, tapi kalau rem saja juga bisa macet atau tidak bisa jalan.

Artinya, kalau gas kencang, maka rem harus dipersiapkan, agar laju tidak kebablasan. Kalau rem terlalu ditekan, maka gas harus segera dipersiapkan secara perlahan, agar tidak kebablasan macetnya. Jadi, apapun persoalan yang mengait dengan COVID-19, janganlah ditarik ke politisasi, karena politisasi untuk COVID-19 itu jahat sekali.

 

Berita Ekonomi | Sumber : COVID-19 dalam “protokol” Bu Tedjo, simalakama ekonomi dan kesehatan

Check Also

Garuda akui tertolong penerbangan domestik saat pandemi

Kemenhub gandeng UI penguatan standar kesehatan transportasi udara

Kebijakan yang dikeluarkan oleh Kemenhub pada sektor transportasi udara telah berdasarkan kajian penelitian mendalamJakarta (ANTARA) …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *