Wednesday , 23 September 2020
Home / Keuangan & Perbankan / Alami Okupansi Terparah, 3.356 Unit Apartemen Sewa di Jakarta Kosong – Property & Bank

Alami Okupansi Terparah, 3.356 Unit Apartemen Sewa di Jakarta Kosong – Property & Bank

PROPERTI – Tingkat hunian atau okupansi apartemen sewa di Jakarta rata-rata sebesar 59,8 persen, turun 13,2 persen terdampak pandemi yang terjadi saat ini. Tingkat okupansi rata-rata pada awal semester 2020 melemah, sebagai dampak kumulatif dari pembatalan penghuni baru dan pemutusan sewa jangka pendek.
Namun, sebagian besar penghuni yang menyewa untuk jangka panjang masih stabil. “Okupansi terjadi karena mayoritas penyewa adalah korporasi, dan ekspatriat yang saat pandemi banyak yang pulang ke negaranya atau diminta pulang,” kata Associate Director Strategic Consultancy Knight Frank Indonesia Donan Aditria, pekan lalu.

Rata-rata harga sewa turun secara keseluruhan, tapi yang terbanyak terjadi berada di apartemen sewa non-servis yang berada di central business district (CBD) dibanding apartemen servis di CBD dan apartemen servis di kawasan premium non CBD. Harga sewa rata-rata kini turun 14 persen, dibandingkan Semester II 2019.
Pasokan apartemen sewa juga menurun lantaran dua proyek di Jakarta Pusat berhenti melakukan transaksi penyewaan sementara, di tengah pandemi. “Ada pasokan yang akan masuk. Kami estimasikan sampai 2023 ada 1.417 unit dari sembilan proyek baru. Untuk apartemen servis dengan kondisi seperti ini, perlu diantisipasi,” jelasnya.

Donan memprediksi hingga akhir tahun akan ada penurunan okupansi yang lebih tajam, di kisaran 40 persen hingga 50 persen, karena belum semua terpotret di Semester I 2020. Selain itu, faktor kondisi ekonomi yang tak bisa langsung rebound setelah pandemi diprediksi masih akan menekan penyewaan apartemen.
“Untuk apartemen servis, ini berbanding lurus dengan bisnis, karena kebanyakan tenant adalah profesional, serta ekspatriat yang disewa korporasi. Kalau ekonomi pulih pun, bisnis tidak bisa langsung rebound. Apartemen servis juga mengikuti, cenderung masih akan tertekan,” ungkapnya.

Angka okupansi apartemen sewa itu, lanjut Donan, bisa dikatakan yang terburuk sepanjang sejarah karena selain pemainnya tak banyak, mayoritas merupakan operator asing. Masalah lainnya, operator apartemen sewa kini harus bersaing langsung dengan sektor perhotelan yang juga menawarkan layanan menginap dalam waktu lama (long stay).
Hal serupa juga disampaikan Country Head Knight Frank Indonesia, Willson Kalip. Willson mengatakan sebagian besar yang masih bertahan merupakan penghuni yang menyewa untuk jangka panjang. Dari 8.341 unit apartemen yang tersedia, sebanyak 3.356 unit saat ini dalam kondisi kosong.

Selain itu, dari sisi suplai apartemen juga menurun 7 persen dari periode sebelumnya. “Dari 3 proyek yang direncanakan akan masuk ke pasar tahun ini, hanya Somerset Sudirman yang jelas menyatakan akan beroperasi pada akhir tahun,” jelasnya. Sementara dari sisi harga sewa, jelas Willson, turun rata-rata sebesar 15 persen.
Dengan rincian harga sewa untuk apartemen servis di CBD menurun 12 persen (YoY). Kemudian untuk apartemen servis di prime non-CBD area turun 11 persen (YoY). Adapun tantangan yang lebih besar dihadapi apartemen sewa non-servis di CBD, dengan penurunan harga sewa mencapai 29 persen.

Dengan situasi ini, Wilson menyarankan untuk membeli apartemen karena banyaknya penawaran khusus dan kemudahan pembayaran dari para pengembang. “Bagi calon pembeli (pengguna), saat ini adalah saat yang tepat membeli apartemen, karena penawaran khusus dan berbagai kemudahan pembayaran ditawarkan,” bilang Wilson.
Di sektor kondominium atau apartemen strata (apartemen dengan status hak milik), berbagai penawaran promo ditawarkan pengembang saat ini, seperti nol persen uang muka, gratis fully furnished atau semi furnished, beli sekarang bayar kemudian, insentif uang muka, angsuran rendah, hingga angsuran secara bertahap hingga 60 kali.

“Perlu dicatat, angsuran bertahap ini memberatkan pengembang. Sementara penjualan menurun, otomatis cash in turun, sehingga cashflow cukup berat. Ini perlu dicermati di semester berikutnya,” katanya.
Sepanjang periode Semester I 2020, tingkat penjualan cenderung stagnan dan relatif sama dengan periode lalu di kisaran 95,4 persen. “Untuk penjualan, nampaknya masih relatif sama. Perlu dicatat, kami melakukan review per semester, masih banyak transaksi masih on going,” pungkasnya. (Artha Tidar)

Berita Keuangan & Perbankan | Sumber : Alami Okupansi Terparah, 3.356 Unit Apartemen Sewa di Jakarta Kosong – Property & Bank

Check Also

Dipasarkan Mulai Rp 3,5 Miliar, Collins Marketplace Dengan Outdoor Park 800 m2 - Property & Bank

Dipasarkan Mulai Rp 3,5 Miliar, Collins Marketplace Dengan Outdoor Park 800 m2 – Property & Bank

KOMERSIAL – PT Perintis Triniti Properti Tbk kembali memperkenalkan salah satu proyek masterpiecenya yang berlokasi …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *